Minggu, 20 Maret 2011

PEMBERIAN YANG MAHAL

Seorang raja hendak mengekspresikan perasaan cinta kasihnya kepada seorang tentara dengan cara memberikan kepadanya cawan yang berhiaskan sangat banyak batu permata indah dan sangat mahal, yaitu cawan milik raja sendiri. Pada saat tentara itu melangkah ke hadapan raja untuk menerima anugerah itu, tiba-tiba ia berteriak dengan sangat malu, “Ini adalah hadiah yang sangat mahal untuk saya terima.”
“Tetapi hadiah itu sama sekali tidak mahal bagiku untuk kuanugerahkan kepadamu” jawab sang raja.
Allah adalah pemberi Keselamatan. Ia menyerahkan Putra TunggalNya untuk mati di atas salib Kalvari untuk menebus kita dari kutukan dosa untuk mengganti kita sehingga barang siapa yang percaya dan menerima Dia sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamatnya pasti tidak akan binasa oleh kutuk dosa melainkan beroleh hidup kekal di Surga.

Sabtu, 05 Maret 2011

Jangan Pernah Berhenti ...

Dalam perjalanan hidup kita, kita sering berjumpa dengan orang yang berkata, “Oh, saya ingat buku itu (Alkitab, red) pada usia 15 tahun yang lalu.” Tetapi tampaknya begitu sering terjadi sesuatu di masa lampau. Dan seseorang akan bertanya, “Tetapi mengapa Anda tidak melakukannya sekarang?”
Memang baik Anda melakukannya ketika Anda masih kanak-kanak atau masih muda, tetapi Anda tidak boleh berhenti, Anda harus mengingat dan membaca Firman Tuhan sekarang. Apakah Anda melakukannya? Apakah Anda membuat anak-anak Anda melakukannya secara konstan seperti yang dilakukan orang tua Anda atau guru Anda? Paulus mengatakan kepada Timotius,”Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini ...” (II Timotius 3:14)
Oh, tetapi urusan hidup ini yang tak dapat ditawar-tawar dan sangat tidak berbelas kasihan telah meminta banyak korban waktu. Kita menjadi begitu ambisius terhadap berbagai macam hal dalam hidup ini. Kita makin kurus secara spiritual; rumput liar; duri dan alang-alang tumbuh cepat dan kita makin bertambah tidak berbuah. Kembalilah dengan sepenuh hati kepada Firman Tuhan, minumlah dari sumbernya yang dalam. Orang lain mungkin berkeliaran disekitar “sumur tanpa air”, tetapi Anda tidak. Orang lain mungkin “menghabiskan uang untuk yang bukan roti, dan kerja keras mereka untuk yang memuaskan”, tetapi Anda tidak. Orang lain mungkin berdalih dan sesuka hati mengejar suatu keberadaan yang biasa-biasa saja dan membiarkan hari-hari dan tahun-tahun mereka berlalu begitu saja, tetapi Anda tidak. Anda sudah menikmati kemanisan kudus dari Firman Allah dan telah diberi pencerahan dan dikayakan oleh substansinya yang abadi, dan Anda akan bangkit serta memulai lagi berkumpul di sekitar manna sorgawi setiap pagi dan membiarkan manna Surgawi itu memperkaya hidup Anda. Manna tempo hari tidak lagi memadai untuk hari ini.

Sabtu, 05 Februari 2011

MENGAPA ENGKAU TERTEKAN, HAI JIWAKU?

Mazmur 42-43

Mataku terpejam, lalu kutarik nafas dalam-dalam. Rasa sesak mengisi dadaku dan penuh sekali dalam pikiranku. Semua masalah dan pergumulan terbayang di mataku menambah sumpek pikiranku. Kegelisahan jadi sahabat yang dekat dengan jiwaku. Kapan penderitaan ini berakhir? Aku teringat mulut orang-orang yang mengolok-olok keadaanku sambil mencibir: “Dimana Allahmu? Allah yang kaupuji siang dan malam. Dimana Dia?”. Dan olok-olokan itu hampir setiap waktu aku dengar. Aku hanya mampu diam tanpa ekspresi. Mengapa sakit, kekurangan dan tekanan masalah demikian berat menimpaku? Akupun diam-diam turut bertanya dalam hatiku: “Dimanakah Engkau, Allahku? Lupakah Engkau kepadaku?” Tanpa sadar air mataku sudah jatuh dipipi. Cepat-cepat aku usap. Tiba-tiba aku teringat bahwa Tuhan itu dekat. Aku teringat bahwa Tuhan tidak akan pernah melupakan dan meninggalkanku. Bait syair lama berkumandang ditelingaku ”Samudera raya berpanggil-panggilan dengan deru air terjunMu; segala glora dan gelombangMu bergulung melingkupi. Tuhan memerintahkan kasih setiaNya pada siang hari...” (Mazmur 42:8-9). Benar, Tuhan tidak pernah melupakanku! Tanganku kulipat, kepala kutundukkan dan dengan air mataku naikkan doaku: “Tuhan Berilah keadilan kepadaku, perjuangkan perkaraku dan luputkanlah aku sebab Engkau tempat pengungsianku... Suruhlah terangMu dan kesetiaanMu datang dan menuntunku ...” (Mazmur 43:1-4). Aku mempercayai sungguh-sungguh bahwa Tuhan-lah tempoat pengungsian, Tuhan-lah Penolongku dan Dialah Allah yang sanggup melakukan perkara besar dalam hidupku. Kehangatan kasih Tuhan memelukku. Damai dan sukacita mengalir di hatiku serentak setelah kunaikkan doa dan keluhanku kepada Tuhan. Akupun segera berdiri dan kutantang jiwaku sendiri, jiwa yang tertekan dan mulai putus asa: “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi epadaNya, Penolongku dan Allahku!” Jiwaku menjadi tenang bahkan kali ini bangkit dan bersorak.

Puji Tuhan, aku terbebas sebab Tuhanlah Penolong dan tempat pengungsianku. Lalu aku tuliskan apa yang kualami sebagai nyanyian yang akan terus dinyanyikan untuk mengingatkan semua orang yang tertekan dan berputus asa bahwa pada Tuhan-lah ada pengharapan, Dialah tempat pengungsian dan Penolong yang ajaib! Aku berharap bila ada yang sedang tertekan dan mengalmi keputus-asaan dan membaca syairku, akan segera disadarkan bahwa Tuhan-lah kekuatan, tempat pengungsian dan Penolong yang ajaib dan akan berseru bersamaku: “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepadaNya, Penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6, 12; 43:5). Amin.

Jumat, 21 Januari 2011

KEKUATAN ALLAH DI DALAM KELEMAHAN KITA

“Jika aku lemah, maka aku kuat,” kata Paulus dalam II Korintus 12:10. Apa yang ia maksudkan nampaknya merupakan pernyataan yang bertentangan, bukan? Paling tidak, saya menemukan tiga hal yang baik yang dapat dilakukan oleh perasaan lemah itu bagi kita.

Pertama, perasaan lemah itu menjaga kita untuk tetap rendah hati dan membuat kita simpatik. Kita tidak akan tergoda untuk membual bahwa kita telah melakukan sesuatu dengan usaha kita sendiri, tanpa bantuan orang lain atau pertolongan Allah.

Kedua, perasaan lemah itu menuntun kita atau mengantarkan kita kepada Kristus. Kalau segala sesuatunya berlangsung dengan baik, kalau kita kelihatannya berhasil, kalau kita merasa kita dapat melakukan apa yang kita ingin lakukan dan kita cukup kuat untuk melangkahi rintangan yang terhampar di jalan kita, kita mungkin melupakan Kristus. Kita beraksi seolah-olah kita dapat berbuat apa saja tanpa pertolonganNya, kendatipun kita tidak menyatakannya dengan banyak bicara. Tetapi kalau kita tidak berdaya dan terjerembab, kita hanya dapat berdoa. Kalau kekuatan kita sendiri telah habis, kita mengulurkan tangan kepada Kristus.

Ketiga, dengan mengulurkan tangan pada Kristus, kelemahan kita menjadi kekuatan -- kekuatan yang nyata, karena kekuatan itu adalah kekuatanNya, bukan kekuatan kita.

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi
kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13)

Minggu, 16 Januari 2011

Pertanyaan???


Alkitab mengatakan bahwa jika saya meminta apa saja di dalam nama Yesus, percaya, maka doa saya akan dijawab. Saya berdoa untuk ibu saya, yang sangat menderita sakit. Hati saya “benar” di hadapan Allah, tetapi ibu saya meninggal. Apa salah saya sehingga Allah tidak menyembuhkan ibu saya?”
Pertama, “meminta di dalam nama Yesus” berarti meminta dalam harmoni dengan tabiat-Nya dan jalan-Nya.
Kedua, kalau saudara berpasrah kepada Allah dengan tulus, terimalah jawaban-Nya sebagai ungkapan yang terbaik dari Dia, dalam kasih kepada saudara, dan bersukacitalah dalam pengetahuan-Nya yang akbar dan dalam kasih-Nya yang sempurna.
Ketiga, sering-seringlah mengambil waktu, melihat kebelakang, untuk mendapatkan keseluruhan gambar arahan Allah. Mungkin tidak harus menunggu hingga saudara tiba di sorga untuk saudara mengerti sepenuhnya situasi seperti ini.
Keempat, di dalam Alkitab, bilamana jawaban Allah “tidak”, Ia selalu mempunyai maksud yang lebih besar dan kekal (Mark. 14:35,36; Ibrani 5:7-10).

Sabtu, 08 Januari 2011

Teratai di Rawa


Suatu hari ada dua orang Kristen melewati sebuah rawa-rawa yang berlumpur dan kotor. Mereka sama-sama melihat bunga teratai di tengah rawa-rawa itu. Mereka berdua berhenti dan mengamati bunga teratai ungu yang indah itu. Tanpa bersuara mereka berdua memberi komentar. Orang Kristen pertama mengernyitkan dahinya dan berkata dalam hatinya: “Huh, Tuhan ini bagaimana sih, masak bunga yang indah dan cantik seperti teratai ini kok ditumbuhkan di tengah-tengah rawa-rawa yang kotor, bau dan berlumpur ini!” Kemudian dia berlalu dengan tetap mengernyitkan dahi dan muka agak muram.
Berbeda dengan orang Kristen yang kedua. Tampak senyum di wajahnya dan dengan mata terkagum-kagum, ia berbicara dalam hati: “Wow, Tuhan Yesus itu luar biasa ya. Bagaimana mungkin menciptakan dan menumbuhkan bunga yang sedemikian indah dan cantik di tengah rawa-rawa yang bau, kotor dan berlumpur ini?” Dia pun berlalu dengan wajah ceria dan terkagum.
Jika diperhatikan orang Kristen yang pertama lebih menekankan rawa-rawa yang bau, kotor dan berlumpur ketimbang bunga teratai yang ditumbuhkan Tuhan sehingga tidak dapat melihat kebesaran dan kebaikan Tuhan, berbeda dengan orang Kristen yang kedua. Nah, Saudara orang Kristen yang pertama atau yang kedua?

Cari Blog Ini

ALBUM KENANGAN